CONTOH KASUS L/C FIKTIF BNI

Nama  : Retno Pudjiastuti

NPM    : 21208027

Kelas   : 4EB14

 

CONTOH KASUS FIKTIF L/C BNI

 

KASUS ini bermula dari diterimanya L/C bernilai Rp 1,7 triliun oleh Bank BNI Cabang Kebayoran Baru. L/C tersebut dibuka oleh bank-bank yang selain bukan merupakan koresponden Bank BNI, juga bank-bank yang berasal dari negara-negara dalam kategori berisiko tinggi (high risk countries).

Bank-bank tersebut adalah Dubai Bank Kenya Limited; Rosbank Switzerland SA; Middle East Bank Kenya Ltd; dan The Wall Street Banking Corp, Cook Islands Beneficiary (eksportir). Sementara yang menerima L/C adalah perusahaan-perusahaan dalam Gramarindo Group dan Petindo Group. Komoditas yang diekspor adalah pasir kuarsa dan residu minyak dengan negara tujuan Kenya dan beberapa negara di Afrika.

Awal terbongkarnya kasus menghebohkan ini adalah tatkala BNI melakukan audit internal pada bulan Agustus 2003. Dari audit itu diketahui bahwa ada posisi euro yang gila-gilaan besarnya, senilai 56,77 juta euro. Pergerakan posisi euro dalam jumlah besar mencurigakan karena peredaran euro di Indonesia terbatas dan kinerja euro yang sedang baik pada saat itu. Dari audit akhirnya diketahui ada pembukaan L/C yang amat besar dan negara bakal rugi lebih satu triliun rupiah.  Kasus ini menjadi fenomenal karena selain merugikan keuangan Bank BNI tetapi juga berimbas pada keuangan negara secara makro.

Adapun Penjelasan mengenai L/C fiktif BNI tersebut adalah sebagai berikut :

– Waktu kejadian : Juli 2002 s/d Agustus 2003

– Opening Bank : Rosbank Switzerland, Dubai Bank Kenya Ltd, The Wall Street Banking Corp, dan Middle East Bank Kenya Ltd.

– Total Nilai L/C : USD.166,79 juta & EUR 56,77 juta atau sekitar Rp. 1,7 trilyun

– Beneficiary/Penerima L/C : 11 perusahaan dibawah Gramarindo Group dan 2 perusahaan dibawah Petindo Group

– Barang Ekspor : Pasir Kuarsa dan Minyak Residu

– Tujuan Ekspor : Congo dan Kenya

– Skim : Usance L/C

Kronologi :

1.Bank BNI Cabang Kebayoran Baru menerima 156 buah L/C dengan Issuing Bank : Rosbank Switzerland, Dubai Bank Kenya Ltd, The  Wall Street Banking Corp, dan Middle East Bank Kenya Ltd. Oleh karena BNI belum mempunyai hubungan koresponden langsung dengan sebagian bank tersebut di atas, mereka memakai bank mediator yaitu American Express Bank dan Standard Chartered Bank.

2.Beneficiary mengajukan permohonan diskonto wesel ekspor berjangka (kredit ekspor) atas L/C-L/C tersebut di atas kepada BNI dan disetujui oleh pihak BNI. Gramarindo Group menerima Rp 1,6 trilyun dan Petindo Group menerima Rp 105 milyar.

3.Setelah beberapa tagihan tersebut jatuh tempo, Opening Bank tidak bisa membayar kepada BNI dan nasabahpun tidak bisa mengembalikan hasil ekspor yang sudah dicairkan sebelumnya.

4. Setelah diusut pihak kepolisian, ternyata kegiatan ekspor tersebut tidak pernah terjadi.

5.Gramarindo Group telah mengembalikan sebesar Rp 542 milyar, sisanya (Rp 1.2 trilyun) merupakan potensi kerugian BNI.

Pada kasus LC fiktif bank BNI yang dituduhkan tersebut, modus operandi yang dilakukan kurang lebih yaitu sebagai berikut :

Antara Penjual ( Eksportir ) & Pembeli ( Importir ), Issuing Bank, Advising Bank & Negotiating Bank telah terjadi kesepakatan terlebih dahulu, sbb :

I. KESEPAKATAN MULTILATERAL / INTERNATIONAL :

a. Kesepakatan harga, volume, waktu pengiriman dan spesifikasi barang yang akan dibeli.

b. Macam LC yang diterbitkan, persyaratan pencairan didalam LC, tgl diterbitkan, tanggal kadaluarsa.

c. Bank yang akan menerbitkan LC adalah koresponden dari Bank Penjual didalam negeri atau harus ada Bank Penjamin didalam negeri (Advising Bank ) apabila bukan koresponden bank, sehingga dengan adanya Advising Bank, maka Negotiating Bank dapat melakukan pendiskotoan LC tersebut sesuai konvensi yaitu UCP.500.

d. Penerbitan dan kemudian pengiriman LC harus menggunakan alat verifikasi yang telah disetujui oleh dunia internasional yaitu  SWIFT dengan Message Type .700, sehingga LC tersebut dikatakan GENUINE  ( benar,  baik, betul, akurat dan dapat dipercaya ).

II. KESEPAKATAN NASIONAL / DALAM NEGERI :

a. Eksportir atau penjual barang,  telah conform dengan Banknya bahwa negotiating bank yang akan digunakan adalah sesuai dengan LC yang akan dikirim oleh Importir lewat Issuing Bank.

b. Eksportir dan Bank didalam negeri telah terjadi kesepakatan untuk  melakukan  pendiskontoan  LC  yang  akan  diterima, setiap bank mempunyai aturan yang berbeda dalam rangka pendiskontoan LC ekspor tersebut, tapi yang sama adalah, bahwa  Bank  mempuinyai HAK REGRES,  yaitu  hak yang dipunyai oleh Bank di dalam negeri, yaitu apabila Issuing Bank atau Importir tidak membayar kepada Negotiating Bank, karena pendiskontoan yang telah dilakukan, dengan alasan apapun, maka Negotiating Bank dapat meminta pelunasan pembayaran kepada Nasabahnya atau eksportir yang dimaksud.

c. Pendiskontoan LC ekspor, sama halnya dengan perjanjian kredit pada umumnya, pada saat terjadi wanprestasi di Luar negeri (Issuing Bank ), maka berlakulah hukum Nasional di Indonesia,    yaitu    perjanjian Kredit pada umumnya dan masuk dalam lingkup HUKUM PERDATA.

d. Apakah penggunaan yang tidak sesuai tentang pemakaian hasil pendiskontoan atau hasil pencairan kredit adalah suatu tindakan PIDANA…..??????? dalam hal ini Tindakan Pidana Korupsi sesuai UU No.31/1999 jo UU.No.20/2001

e. Dalam  perjanjian  Kredit  atau  pendiskotoan  LC  tersebut, Bank pada umumnya telah melakukan prinsip kehati-hatian bank, yaitu meninjau usaha, menilai asset sebagai jaminan pembayaran,  sehingga  apabila  terjadi  wanprestasi,  Bank tetap aman untuk menerima pengembalian dana yang telah dicairkan kepada nasabah,  baik berupa kredit atau pendiskontoan LC.

f. Dokumen Pendukung disini adalah seolah-olah telah atau akan terjadi pengiriman barang dengan  menggunakan Bill of Lading, & dokumen lainnya yang diminta dalam LC, dikarenakan   antara Importir dan Eksportir dan juga antara Issuing   Bank   &   Negoriating   Bank,   sudah   terjadi kesepakatan, maka pembayaran tetap dilakukan pada saat jatuh tempo ( terbukti dari total 82 slip LC, hanya                         37 Slip LC yang  belum  dibayar, itu  pun   karena    dikasuspidanakan   oleh BNI ).

Kesimpulan :

Pada LC seolah-olah telah atau aka nada pengiriman dengan dokumen yang disepakati didalam LC.

Dikarenakan kesepakatan-kesepakatan diatas telah terjadi maka,  terjadilah Pendiskontoan LC Ekspor oleh Bank BNI terhadap Gramarindo Group, didalam pelaksanaannya tidak pernah terjadi masalah, yaitu sejak bulan September 2002 sampai dengan Agustus 2003, Bank diluar negeri sebagai Issuing Bank, yang menerbitkan LC tersebut tetap membayar kepada Bank BNI atas pendiskontoan LC yang telah dilakukan terlebih dahulu dan karena pembayarannya dalam US. Dollar, maka pembayaran selalu melewati perjanjian Internasional, yaitu BANK SENTRAL di NEW YORK.

Solusi :

Setelah diketahui oleh Satuan Intern Pengawas Bank BNI, bahwa terjadi kesalahan prosedur untuk pendiskontoan LC tersebut, maka Bank BNI atas sepengetahuan direksi di kantor Pusat, menyetujui dibuat AKTE  PENGAKUAN  HUTANG atas total pendiskontoan LC yang terjadi dan masih ditambah dengan Borgtogh oleh Owner  dan  Konsultan  Investasi  Sagared  Group. Yang sebenarnya bahwa APU tersebut adalah sama dengan Letter of Indemnity partial yang terlampir per slip LC yang menyangkut HAK REGRES, yang kemudian direkapitulasi menjadi total angka didalam APU dengan tambahan jaminan/collateral saja.

  

SKEMA KASUS L/C BNI

 

 

Sumber : http://repository.binus.ac.id/content/J0044/J004433934.doc.

http://korup5170.files.wordpress.com/2008/06/menyimak-kasus-letter-of-credit-bnidoc.pdf

Published in: on March 30, 2012 at 12:33 pm  Leave a Comment  

TUGAS 1 AKUNTANSI INTERNASIONAL (KURS)

TUGAS 1 AKUNTANSI INTERNASIONAL

Nama : Retno Pudjiastuti

NPM   : 21208027

Kelas  : 4EB14

 Nilai Kurs

Mata Uang Kurs Jual Kurs  Beli
Poundsterling Inggris (GBP) 14.498,28 14.350,94
Franc Swiss (CHF) 10.000 9.894,90
Kroner Swedia (SEK) 1.357,57 1.343,14
Dolar Selandia Baru (NZD) 7.589,51 7.505,59
Yuan China (CNY) 1.459,49 1.444,94

   Data : 16 Maret 2012

1. Nona Sasya mendapat kiriman uang dari pamannya yang bekerja di Amerika Serikat sebesar US$1.000 dan kiriman kakaknya yang bekerja di Jepang sebesar ¥5.000. Kurs jual US$1 = Rp7.200,00 dan ¥1 = Rp240,00;  sedangkan kurs beli US$1  =  Rp7.000,00   dan ¥1  =  Rp250,00. Berapa  rupiah uang  yang akan diterima Nona Sasya?

Jawab :

Uang dari paman  yang bekerja di Amerika : US$ 1.000 x Rp 7.000 = Rp 7.000.000

Uang dari kakak yang bekerja di Jepang :  ¥ 5.000 x Rp 250 = Rp 1.250.000

Jadi, rupiah uang yang diterima Nona Sasya adalah Rp 7.000.000 + Rp 1.250.000 = Rp8.250.000

2. Jika Tuan Rudolfo memiliki uang rupiah sebesar Rp10.080.000,00, kemudian ia ingin menukarkannya dengan lima mata uang yang saudara pilih, berapa yang akan ia peroleh?

Jawab :

Tuan Rudolfo menukarkan rupiah ke mata uang asing berarti bursa valas menjual mata uang asing ke Tuan Rudolfo. Jadi kurs yang dipakai adalah kurs jual.

Poundstreling Inggris ( GBP ) = 10.080.000 : 14.498,28 = GBP 695,25

Franc Swiss (CHF) = 10.080.000 : 10.000 = CHF 1008

Kroner Swedia (SEK) = 10.080.000 : 1.357,57 = SEK 7.425,03

Dolar Selandia Baru (NZD) = 10.080.000 : 7.589,51 = NZD 142,30

Yuan China (CNY) = 10.080.000 : 1.459,49 = CNY 6.906,52

3. Tn. Michael akan pergi ke lima negara (Disesuaikan dengan pemilihan mata uang negara masing-masing individu). Ia mempunyai uang sebesar Rp. 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah). Hari ini ia datang ke bursa valas untuk menukarkan uangnya (rupiah).

Pada saat itu kurs yang berlaku di bursa valas adalah sebagai berikut.
Kurs jual : Tergantung pemilihan mata uang masing-masing

Kurs Beli : Tergantung pemilihan mata uang masing-masing
Berapa yang diterima Tn. Michael dari bursa valas?

Jawab :

Tn. Michael menukarkan rupiah ke mata uang asing berarti bursa valas menjual mata uang asing ke Tn. Michael. Jadi kurs yang dipakai adalah kurs jual.

Poundstreling Inggris ( GBP ) = 200.000.000 : 14.498,28 =  GBP 13.794,74

Franc Swiss (CHF) = 200.000.000 :10.000 = CHF 20.000

Kroner Swedia (SEK) = 200.000.000 : 1.357,57 =  SEK 147.322,05

Dolar Selandia Baru (NZD) = 200.000.000 : 7.589,51 = NZD 26.352,16

Yuan China (CNY) = 200.000.000 : 1.459,49 = CNY 137.034,17

4.  Sepulang dari lima negara tersebut, Tn. Michael memiliki sisa uang sebanyalk 1000 untuk masing-masing mata uang.  Ia datang lagi ke bursa valas untuk menukarkan uang dolarnya dengan uang rupiah.  Pada saat itu kurs yang berlaku di bursa sebagai berikut:

Kurs jual : Tergantung pemilihan mata uang masing-masing

Kurs Beli : Tergantung pemilihan mata uang masing-masing
Berapa rupiah Tn. Michael akan menerima hasil penukaran di bursa valas tersebut?

Jawab :

Tn. Michael menukarkan mata uang asing ke rupiah berarti bursa valas membeli mata uang asing dari Tn. Michael jadi kurs yang dipakai adalah kurs beli.

Poundstreling Inggris ( GBP ) = 1000 x 14.350,94 = Rp 14.350.940

Franc Swiss (CHF) = 1000 x 9.894,90 =  Rp 9.894.900

Kroner Swedia (SEK) = 1000 x 1.343,14= Rp 1.343.140

Dolar Selandia Baru (NZD) =1000 x 7.505,59 = Rp 7.505.590

Yuan China (CNY) = 1000 x 1.444,94 = Rp 1.444.940

Published in: on March 16, 2012 at 1:45 pm  Leave a Comment  
Tags:

SEJARAH PERKEMBANGAN AKUNTANSI INTERNASIONAL, DEFINISI DAN TUJUAN

Nama  : Retno Pudjiastuti

NPM     : 21208027

Kelas   : 21208027

 

SEJARAH PERKEMBANGAN AKUNTANSI INTERNASIONAL

–          Pengaruh Akuntansi Itali

–          Luca Paoli :

  •  Mathematician
  •   Summa the arithmetica geometria proportioni et proportionalita
  • 3 (tiga ) catatan penting yang harus dilakukan:

1. Buku Memorandum

2. Jurnal

3. Buku Besar

–     Pertumbuhan perdagangan internasional di Italia Utara selama akhir abad pertengahan

–     Tahun 1850-an double entry bookkeeping mencapai Kepulauan Inggris

–     Tahun 1870-an tumbuhnya masyarakat akuntansi dan profesi akuntansi publik yang terorganisasi di Skotlandia dan Inggris.Praktik akuntansi Inggris menyebar ke seluruh Amerika Utara dan seluruh wilayah persemakmuran Inggris.

–     Selain itu model akuntansi Belanda diekspor antara lain ke Indonesia, Sistem akuntansi Perancis di Polinesia dan wilayah-wilayah Afrika dibawah pemerintahan Perancis. Kerangka pelaporan sistem Jerman berpengaruh di Jepang, Swedia, dan Kekaisaran Rusia.

–     Paruh Pertama abad 20, seiring tumbuhnya kekuatan ekonomi Amerika Serikat, kerumitan masalah akuntansi muncul bersamaan. Kemudian Akuntansi diakui sebagai suatu disiplin ilmu akademik tersendiri.

–     Setelah Perang Dunia II, pengaruh Akuntansi semakin terasa di Dunia Barat.

DEFINISI AKUNTANSI  INTERNASIONAL

Iqbal, Melcher dan Elmallah (1997:18) mendefinisikan akuntansi internasional sebagai akuntansi untuk transaksi antar negara, pembandingan prinsip-prinsip akuntansi di negara-negara yang berlainan dan harmonisasi standar akuntansi diseluruh dunia.

Menurut Choi dan Muller (1998; 1) Bahwa ada tiga kekuatan utama yang mendorong bidang akuntansi internasional kedalam dimensi internasional yang terus tumbuh, yaitu : (1) faktor lingkungan, (2) Internasionalisasi dari disiplin akuntansi, dan (3) Internasionalisasi dari profesi akuntansi.

1. Faktor Lingkungan yang Berpengaruh Terhadap Pengembangan Akuntansi

Sejumlah faktor lingkungan yang diyakini memiliki pengaruh langsung terhadap pengembangan akuntansi, antara lain :

a. Sistem Hukum

b.Sistem Politik

c. Sifat kepemilikan bisnis

d. Perbedaan besaran dan kompleksitas perusahaan-perusahaan bisnis

e. Iklim Sosial

f.Tingkat kompetensi manajemen bisnis dan komunitas keuangan

g. Tingkat campur tangan bisnis legislative

h. Ada legislasi akuntansi tertentu

i. Kecepatan inovasi bisnis

j. Tahap pembangunan ekonomi

k. Status Pendidikan dan organisasi professional

2. Internasionalisasi Disiplin Akuntansi

Tiga faktor Kunci telah memainkan peranan yang menentukan dalam internasionalisme (bidang atau disiplin) akuntansi:

a. Spesialisasi

b. Sifat internasional dari sejumlah masalah teknis

c. Alasan historis

3. Internasionalisasi Profesi Akuntansi

Komunitas investasi internasional akan menginginkan kerjasama internasional antar akuntan-akuntan profesional dan bahwa organisasi – organisasi akuntansi internasionaal harus mampu memberikan keharmonisan profesional yang lebih baik diseluruh dunia.

TUJUAN AKUNTANSI INTERNASIONAL

Adapun tujuan dari adanya akuntansi internasional adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengembangkan dalam kepentingan umum, satu set standar akuntansi global yang berkualitas tinggi, dapat dipahami dan dapat diterapkan yang mewajibkan informasi yang berkualitas tinggi, transaparan, dan dapat dibandingkan dalam laporan keuangan dan pelaporan keuangan lainnya untuk membantu para partisipan dalam pasar modal dunia dan pengguna lainnya dalam membuat keputusan ekonomi.

2. Untuk mendorong penggunaan dan penerapan standar-stnadar yang ketat.

3. Untuk membawa konvergensi standar akuntansi nasional dan Standar Akuntansi Internasional dan Standar Pelaporan Keuangan Internasional ke arah solusi berkualitas tinggi.

4. Untuk membantu dan memudahkan bisnis atau usaha antar Negara-negara di dunia.

5.  Membantu perekonomian dunia ke arah yang lebih baik.

Sumber :

http://mwel25.wordpress.com/2011/03/14/faktor-%E2%80%93-faktor-yang-mempengaruhi-perkembangan-akuntansi-internasional/

http://agusw77.files.wordpress.com/2009/06/perkembangan-akuntansi-internasional4.pdf

http://ariajach.blogspot.com/2011/04/akuntansi-internasional-adalah.html

http://www.google.com

Published in: on March 15, 2012 at 4:59 pm  Leave a Comment  
Tags: